Kenneth Burke dalam A Grammer of Motives' and A Rhetoric of Motives (1927:33) menyatakan bahwa sastra idealnya berperan secara estetika dan praktis. Artinya, meski sastra merupakan dunia dengan tebaran keindahan, tetapi harus memiliki relevansi dan kontribusi bagi kehidupan.
Sastra harus memiliki kandungan atau isi bermanfaat, mengangkat derajat perikemanusiaan dan mengajarkan nilai-nilai moral yang luhur. Dengan kata lain, sastra harus menjadi medium penyadaran dan pendidikan masyarakat pembacanya. Memang pada mulanya, sastra dicipta semata-mata sebagai dunia estetika yang hendak dicumbui keindahannya. Akan tetapi, karena sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka akhirnya berkembang sesuai dengan proses zaman yang memolanya.
Karya sastra yang kritis dan imajinatif, menjadi semacam rujukan atau jawaban atas persoalan dalam kehidupan, di samping kitab suci agama. Jawaban yang disuguhkan sastra memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yaitu kebenaran yang merupakan kata kunci dalam pengetahuan (sains) dan keindahan yang merupakan unsur sastra sendiri. Pendek kata, sastra memberi jawaban atas problem kehidupan dengan kebenaran yang dibalut keindahan. Jika merujuk pendapat Burke tersebut, terjawab sudah kontrovesi antara kubu estetika dengan kubu praktis mengenai peran sastra.
Puisi misalnya, memang merupakan sebuah media untuk mencurahkan segala kegelisahan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Sejak zaman Chairil Anwar dan mungkin juga sebelumnya puisi sudah banyak digunakan sebagai media untuk memprotes atau mengkritik pemerintah.
Disini, dalam kumpulan puisi “Sori Gusti” Darmanto Jatman juga mencoba melakukan sebuah kritik terhadap pemerintah yang dianggap sudah tidak mampu lagi melakukan tugasnya dengan baik. Puisi-puisi yang ada di sini banyak sekali menghadirkan suatu kebenaran dan keindahan sebuah puisi yang memiliki kedalaman makna yang sangat mendalam.
Pidato perdamaian karya Daramnto ini merupakan paduan antara puisi, pidato dan pantun nasehat. Darmanto berani mengemas puisi berbeda mengikuti aliran kontemporer yang ingin keluar dari struktur sosial kritik. Kritik sosial yang ditulis merupakan pencitraan dari masyarakat Indonesia umumnya dan penguasa khususnya. Penyajian yang berbeda dengan tambahan pantun nasehat dan semboyan-semboyan klasik di negara ini serta disajikan hampir mendekati sebuah teks pidato merupakan ciri yang sangat kental yang membangun puisi-puisi di sini.
Dalam puisi “harmoni itu sepasang sandal jepit” Darmanto menampilkan sesuatu yang lebih religi, namun masih mengangkat tema kritik sosial. Dalam puisi ini darmanto mencantumkan juga puisi dari dua penyair terkenal yaitu, “doa Seorang Serdadu sebelum Perang (WS Rendra) dan “Doa” (Chairil Anwar). Kita semua tahu kalau kedua penyair ini sangat kental dengan puisi-puisi yang sangat mengkritik, terutama kepada sistem social dan politik yang ada di Negara ini. Kembali lagi, dalam puisi ini Darmanto menghadirkan banyak sekali kisah-kisah klasik yang ada di daerah-daerah di negara ini. Dari cerita kerajaan Sriwijaya yang telah menyatukan nusantara, Gajahmada yang memdengungkan sumpah palapa hingga VOC menguasai Nusantara. Puisi ini juga menyinggung tentang kekuasaan orde baru dimana, Negara menjadi monolitik dan pola-pola berperilaku diseragamkan hingga keruntuhannya pada 21 Mei 1998. puisi ini mengajarkan kita untuk menerima perbedaan yang telah membangun bangsa ini. Semua manusia sama, setiap orang berbeda-beda, itulah yang ingin disampaikan Darmanto Jatman dalam puisi ini.
Dalam puisi “Jangan Asal Usul”, Darmanto juga menyindir oknum-oknum pemerintah pasca orde baru dalam melaksanakan tugasnya. Banyak sekali praktek-praktek yang tidak jauh berbeda dengan pada saat zaman Orde Baru. Darmanto dengan samar seperti sedang mengatakan bahwa “kalau menjadi pejabat itu jangan hanya mengurusi diri sendiri dan mengorbankan rakyat”. Di sini juga di tambahkan sebuah pepatah jawa yang sengaja ditujukan kepada oknum-oknum pemerintah yang biasanya hanya “ngomong tok” yaitu, ajining diri ana ing lathi. Pepatah ini memiliki makna yang dalam mengenai harga diri seseoranga dimata orang lain, yaitu bahwa harga diri seseorang dilihat dari bicaranya. Dalam konteks ini adalah bicaranya para pejabat negara atau para wakil rakyat yang hanya bisa bicara tanpa ada kerja konkrit, serta selalu menysahkan rakyat kecil.
Dalam puisi “Laporan kepada Rakyat” sekali lagi disinggung tentang Pemimpin Orde Baru yaitu Presiden Suharto yang menjelang keruntuhan kekuasaannya membentuk suatu organisasi tanpa bentuk. Suatu situasi dimana banyak sekali orang yang sangat tunduk kepada penguasa Orde Baru.
Selanjutnya dalam puisi “Amanat buat Mereka yang Pindah Abad” Darmanto mencoba menghadirkan suatu konflik yang terjadi saat ini. Dalam pusisi ini sangat padat sekali isinya tentang kisah-kisah yang terjadi pada masa lalu dan membandingkannya dengan situasi yang ada sekarang. Puisi ini menggambarkan situasi abad 20 yang penuh dengan peperangan dan kekerasan. Banyak sekali dimana-mana terjadi perang, pembunuhan dan kerusuhan. Suatu abad dimana orang-orang sangat akrab dengan yang namnya senjata. Sekarang zaman sudah berubah, disebut sebagai milenium baru, abad yang baru.Oleh karena itu Darmanto mencoba mengingatkan kepada orang-orang yang merasa masuk pada abad yang baru ini untuk tidak mengulangi atau meniru tindak-tindak kekerasan yang biasa dilakukan pada abad sebelumnya. Dalam pusisi ini Darmanto sengaja mengawalinya dengan salam
Saudara-saudara
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syalom, Shanti, Sancai, Slamet!...
Ini dimaksudkan bahwa amanat yang disampaikan dalam puisi ini ditujukan kepada semua kalangan dari berbagai agama yang ada di Indonesia. Tanpa membeda-bedakan suku dan agama.
Dari keseluruhan pusi-pusi Daramnto ini yang di dalamnya sering dicantumkan sejarah-sejarah yaitu dimaksudkan agar bangsa ini mau belajar dari pengalaman yang pernah terjadi. Banyak sekali kisah-kisah yang ditampilkan tersebut memiliki makna dalam dan sangat berhubungan dengan kondisi Indonesia saat ini. Selain itu ditambahkannya juga pepatah-pepatah klasik juga merupakan pembelajaran bahwa kearifan lokal negri ini yang memiliki unsur makna yang sangat luhur.
Pada konteks bangsa ini (Indonesia), tatkala krisis multidimensi dan carut-marut belum beranjak, idealnya sastra menyembulkan peran estetika dan praktisnya. Sastrawan kita mesti terjaga dari peraduannya. Sudah saatnya sastrawan kita memoles luka bopeng kehidupan bangsa ini, dengan berbagai karya kritis sekaligus mencerahkan.
Sastrawan kita harus berperan layaknya Paulo Freire, yang meminjam derita masyarakat sebagai penyuplai ide-idenya. Seluruh karya Freire merupakan kritik sosial atas penderitaan yang menimpa rakyatnya. Menurut Freire, sastrawan mestinya tidak hanya menjadikan rakyat sebagai objek karya sastra, lebih dari itu sebagai subjeknya. Dengan kata lain, sastra tidak hanya berbicara tentang rakyat, melainkan juga berbicara dan bersilaturrahmi dengan mereka.
Selain itu, sastrawan-melalui karya-karyanya-harus membongkar oknum-oknum haus kekuasaan, munafik, gila harta atau oknum ulama yang tidak peduli dengan umatnya. Sudah saatnya sastrawan "memberontak" pada ketidakadilan, penguasa yang menindas, menghisap dan menyengsarakan rakyatnya. Tidak ada pilihan lain, selain sastra kita-meminjam istilah Satyagraha Hoerip-harus "terlibat" dalam menyelamatkan moralitas bangsa. Tujuannya, agar korupsi, manipulasi, menipu, memeras, dan moralitas bejat lainnya, menular atau mewaris pada generasi muda (Sawali Tuhusetya, 2007). Pertanyaannya kemudian adalah, tatkala sastra(wan) telah lantang menyuarakan "pemberontakan" tersebut, apakah lantas kondisi bangsa ini terentaskan? Secara langsung memang tidak terasa. Paling tidak, masyarakat (pembaca) kemungkinan besar terangsang untuk melakukan penyadaran tentang pelbagai problem tersebut pasca membaca karya sastra, atau kemungkinan problem tersebut tidak dirasakan lagi kehadirannya dalam kehidupan-karena masyarakat terhibur dengan sastra (Chairul Harun, 1997).
Darmanto Jatman dalam antologi puisinya ini juga berusaha untuk melakukan hal yang sama seperti yang dimaksudkan dengan penjelasan tentang sastra(wan) di atas. Dia berusaha menghadirkan suatu kondisi yang selama ini menaungi negri ini. Untuk itu Darmanto berusaha melakukan penyadaran terhadap siapa saja yang telah membaca puisinya ini tentang berbagai masalah yang tengah dihadapi oleh negeri ini. Dengan demikian diharapkan agar para generasi penerus bangsa ini dapat belajar dari pengalaman dan mampu memperbaiki kondisi dan situasi pada negara ini.
Di Indonesia memang ada beberapa karya sastra yang berusaha menjadi sarana kritik sosial, akan tetapi menurut Kuntowijoyo karya-karya sastra tersebut belum mampu membentuk public opinion masyarakatnya. Serat Kalatida karya Ronggowarsito (1802-1874) misalnya, sebuah puisi yang mengandung protes sosial, tetapi menurut Kuntowijoyo masih terlalu bersifat moral sehingga keterjepitan masyarakat Jawa dalam dunia tidak dapat diubah dan tidak dapat dihindarkan. Serat Kalatida juga tidak memberi inspirasi sekaligus membuahkan gerakan masyarakat Jawa atau revolusi sosial masyarakat jawa. Serat Kalatida juga hanya mengingatkan para pejabat dan rakyat Kerajaan Jawa untuk selalu eling dan waspada menghadapi "zaman edan".
Novel bergaya prosa liris Pengakuan Pariyem (1981) karya Linus Suryadi AG, juga mengungkap kritik sosial (social critical) dengan melukiskan nasib penduduk desa yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Novel tersebut berhasil mengungkap dunia batin yang serba pasrah terhadap nasib yang disandang. Melalui simbol tokoh Pariyem, Linus berusaha memancing munculnya gerakan protes kaum wanita (gender) akan penindasan kaum bangsawan serta penempatan posisi wanita sebagai the second sex. Selain itu, Pengakuan Pariyem juga menjadi saksi sejarah mengenai proses urbanisasi besar-besaran, potret kemiskinan, serta culture of poverty daerah tandus yang bernama Gunung Kidul.
Sudah saatnya perdebatan (kubu estetika dan praktis) seputar peran sastra diakhiri. Kedua kubu mesti bergandengan tangan, bersilaturrahmi dan bahu-membahu demi mengentaskan bangsa ini dari krisis. Kolaborasi antara kubu estetis dengan kubu praktis, akan menghasilkan kritik sosial yang berimbang.
Kritik sosial sastra tidak melulu mengobarkan yel-yel dan protes yang gegap-gempita terhadap realitas sosial. Tetapi, perlu dibarengi dengan unsur estetis sehingga sanggup menumbuhkan kesadaran dalam lubuk hati pembacanya tanpa bermaksud menggurui. Pembaca yang hanya melulu disodori berbagai fatwa, nasehat, pepatah dan petitih sosial yang nggegirisi, tak ubahnya membaca sebuah liputan mengenai kejadian demonstrasi atau unjuk rasa yang vulgar. Bisa terjadi miscommunication dan misperseption antara persepsi dan visi penulisnya dengan masyarakat pembacanya.
Senin, 22 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



1 komentar:
https://www.facebook.com/pages/Darmanto-Jatman/528430633879965
Posting Komentar