Senin, 22 Desember 2008

Kritik Sosial dalam Puisi-Puisi Darmanto Jatman Sori Gusti

1 komentar
Kenneth Burke dalam A Grammer of Motives' and A Rhetoric of Motives (1927:33) menyatakan bahwa sastra idealnya berperan secara estetika dan praktis. Artinya, meski sastra merupakan dunia dengan tebaran keindahan, tetapi harus memiliki relevansi dan kontribusi bagi kehidupan.
Sastra harus memiliki kandungan atau isi bermanfaat, mengangkat derajat perikemanusiaan dan mengajarkan nilai-nilai moral yang luhur. Dengan kata lain, sastra harus menjadi medium penyadaran dan pendidikan masyarakat pembacanya. Memang pada mulanya, sastra dicipta semata-mata sebagai dunia estetika yang hendak dicumbui keindahannya. Akan tetapi, karena sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka akhirnya berkembang sesuai dengan proses zaman yang memolanya.
Karya sastra yang kritis dan imajinatif, menjadi semacam rujukan atau jawaban atas persoalan dalam kehidupan, di samping kitab suci agama. Jawaban yang disuguhkan sastra memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yaitu kebenaran yang merupakan kata kunci dalam pengetahuan (sains) dan keindahan yang merupakan unsur sastra sendiri. Pendek kata, sastra memberi jawaban atas problem kehidupan dengan kebenaran yang dibalut keindahan. Jika merujuk pendapat Burke tersebut, terjawab sudah kontrovesi antara kubu estetika dengan kubu praktis mengenai peran sastra.
Puisi misalnya, memang merupakan sebuah media untuk mencurahkan segala kegelisahan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Sejak zaman Chairil Anwar dan mungkin juga sebelumnya puisi sudah banyak digunakan sebagai media untuk memprotes atau mengkritik pemerintah.
Disini, dalam kumpulan puisi “Sori Gusti” Darmanto Jatman juga mencoba melakukan sebuah kritik terhadap pemerintah yang dianggap sudah tidak mampu lagi melakukan tugasnya dengan baik. Puisi-puisi yang ada di sini banyak sekali menghadirkan suatu kebenaran dan keindahan sebuah puisi yang memiliki kedalaman makna yang sangat mendalam.
Pidato perdamaian karya Daramnto ini merupakan paduan antara puisi, pidato dan pantun nasehat. Darmanto berani mengemas puisi berbeda mengikuti aliran kontemporer yang ingin keluar dari struktur sosial kritik. Kritik sosial yang ditulis merupakan pencitraan dari masyarakat Indonesia umumnya dan penguasa khususnya. Penyajian yang berbeda dengan tambahan pantun nasehat dan semboyan-semboyan klasik di negara ini serta disajikan hampir mendekati sebuah teks pidato merupakan ciri yang sangat kental yang membangun puisi-puisi di sini.
Dalam puisi “harmoni itu sepasang sandal jepit” Darmanto menampilkan sesuatu yang lebih religi, namun masih mengangkat tema kritik sosial. Dalam puisi ini darmanto mencantumkan juga puisi dari dua penyair terkenal yaitu, “doa Seorang Serdadu sebelum Perang (WS Rendra) dan “Doa” (Chairil Anwar). Kita semua tahu kalau kedua penyair ini sangat kental dengan puisi-puisi yang sangat mengkritik, terutama kepada sistem social dan politik yang ada di Negara ini. Kembali lagi, dalam puisi ini Darmanto menghadirkan banyak sekali kisah-kisah klasik yang ada di daerah-daerah di negara ini. Dari cerita kerajaan Sriwijaya yang telah menyatukan nusantara, Gajahmada yang memdengungkan sumpah palapa hingga VOC menguasai Nusantara. Puisi ini juga menyinggung tentang kekuasaan orde baru dimana, Negara menjadi monolitik dan pola-pola berperilaku diseragamkan hingga keruntuhannya pada 21 Mei 1998. puisi ini mengajarkan kita untuk menerima perbedaan yang telah membangun bangsa ini. Semua manusia sama, setiap orang berbeda-beda, itulah yang ingin disampaikan Darmanto Jatman dalam puisi ini.
Dalam puisi “Jangan Asal Usul”, Darmanto juga menyindir oknum-oknum pemerintah pasca orde baru dalam melaksanakan tugasnya. Banyak sekali praktek-praktek yang tidak jauh berbeda dengan pada saat zaman Orde Baru. Darmanto dengan samar seperti sedang mengatakan bahwa “kalau menjadi pejabat itu jangan hanya mengurusi diri sendiri dan mengorbankan rakyat”. Di sini juga di tambahkan sebuah pepatah jawa yang sengaja ditujukan kepada oknum-oknum pemerintah yang biasanya hanya “ngomong tok” yaitu, ajining diri ana ing lathi. Pepatah ini memiliki makna yang dalam mengenai harga diri seseoranga dimata orang lain, yaitu bahwa harga diri seseorang dilihat dari bicaranya. Dalam konteks ini adalah bicaranya para pejabat negara atau para wakil rakyat yang hanya bisa bicara tanpa ada kerja konkrit, serta selalu menysahkan rakyat kecil.
Dalam puisi “Laporan kepada Rakyat” sekali lagi disinggung tentang Pemimpin Orde Baru yaitu Presiden Suharto yang menjelang keruntuhan kekuasaannya membentuk suatu organisasi tanpa bentuk. Suatu situasi dimana banyak sekali orang yang sangat tunduk kepada penguasa Orde Baru.
Selanjutnya dalam puisi “Amanat buat Mereka yang Pindah Abad” Darmanto mencoba menghadirkan suatu konflik yang terjadi saat ini. Dalam pusisi ini sangat padat sekali isinya tentang kisah-kisah yang terjadi pada masa lalu dan membandingkannya dengan situasi yang ada sekarang. Puisi ini menggambarkan situasi abad 20 yang penuh dengan peperangan dan kekerasan. Banyak sekali dimana-mana terjadi perang, pembunuhan dan kerusuhan. Suatu abad dimana orang-orang sangat akrab dengan yang namnya senjata. Sekarang zaman sudah berubah, disebut sebagai milenium baru, abad yang baru.Oleh karena itu Darmanto mencoba mengingatkan kepada orang-orang yang merasa masuk pada abad yang baru ini untuk tidak mengulangi atau meniru tindak-tindak kekerasan yang biasa dilakukan pada abad sebelumnya. Dalam pusisi ini Darmanto sengaja mengawalinya dengan salam
Saudara-saudara
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syalom, Shanti, Sancai, Slamet!...
Ini dimaksudkan bahwa amanat yang disampaikan dalam puisi ini ditujukan kepada semua kalangan dari berbagai agama yang ada di Indonesia. Tanpa membeda-bedakan suku dan agama.
Dari keseluruhan pusi-pusi Daramnto ini yang di dalamnya sering dicantumkan sejarah-sejarah yaitu dimaksudkan agar bangsa ini mau belajar dari pengalaman yang pernah terjadi. Banyak sekali kisah-kisah yang ditampilkan tersebut memiliki makna dalam dan sangat berhubungan dengan kondisi Indonesia saat ini. Selain itu ditambahkannya juga pepatah-pepatah klasik juga merupakan pembelajaran bahwa kearifan lokal negri ini yang memiliki unsur makna yang sangat luhur.
Pada konteks bangsa ini (Indonesia), tatkala krisis multidimensi dan carut-marut belum beranjak, idealnya sastra menyembulkan peran estetika dan praktisnya. Sastrawan kita mesti terjaga dari peraduannya. Sudah saatnya sastrawan kita memoles luka bopeng kehidupan bangsa ini, dengan berbagai karya kritis sekaligus mencerahkan.
Sastrawan kita harus berperan layaknya Paulo Freire, yang meminjam derita masyarakat sebagai penyuplai ide-idenya. Seluruh karya Freire merupakan kritik sosial atas penderitaan yang menimpa rakyatnya. Menurut Freire, sastrawan mestinya tidak hanya menjadikan rakyat sebagai objek karya sastra, lebih dari itu sebagai subjeknya. Dengan kata lain, sastra tidak hanya berbicara tentang rakyat, melainkan juga berbicara dan bersilaturrahmi dengan mereka.
Selain itu, sastrawan-melalui karya-karyanya-harus membongkar oknum-oknum haus kekuasaan, munafik, gila harta atau oknum ulama yang tidak peduli dengan umatnya. Sudah saatnya sastrawan "memberontak" pada ketidakadilan, penguasa yang menindas, menghisap dan menyengsarakan rakyatnya. Tidak ada pilihan lain, selain sastra kita-meminjam istilah Satyagraha Hoerip-harus "terlibat" dalam menyelamatkan moralitas bangsa. Tujuannya, agar korupsi, manipulasi, menipu, memeras, dan moralitas bejat lainnya, menular atau mewaris pada generasi muda (Sawali Tuhusetya, 2007). Pertanyaannya kemudian adalah, tatkala sastra(wan) telah lantang menyuarakan "pemberontakan" tersebut, apakah lantas kondisi bangsa ini terentaskan? Secara langsung memang tidak terasa. Paling tidak, masyarakat (pembaca) kemungkinan besar terangsang untuk melakukan penyadaran tentang pelbagai problem tersebut pasca membaca karya sastra, atau kemungkinan problem tersebut tidak dirasakan lagi kehadirannya dalam kehidupan-karena masyarakat terhibur dengan sastra (Chairul Harun, 1997).
Darmanto Jatman dalam antologi puisinya ini juga berusaha untuk melakukan hal yang sama seperti yang dimaksudkan dengan penjelasan tentang sastra(wan) di atas. Dia berusaha menghadirkan suatu kondisi yang selama ini menaungi negri ini. Untuk itu Darmanto berusaha melakukan penyadaran terhadap siapa saja yang telah membaca puisinya ini tentang berbagai masalah yang tengah dihadapi oleh negeri ini. Dengan demikian diharapkan agar para generasi penerus bangsa ini dapat belajar dari pengalaman dan mampu memperbaiki kondisi dan situasi pada negara ini.
Di Indonesia memang ada beberapa karya sastra yang berusaha menjadi sarana kritik sosial, akan tetapi menurut Kuntowijoyo karya-karya sastra tersebut belum mampu membentuk public opinion masyarakatnya. Serat Kalatida karya Ronggowarsito (1802-1874) misalnya, sebuah puisi yang mengandung protes sosial, tetapi menurut Kuntowijoyo masih terlalu bersifat moral sehingga keterjepitan masyarakat Jawa dalam dunia tidak dapat diubah dan tidak dapat dihindarkan. Serat Kalatida juga tidak memberi inspirasi sekaligus membuahkan gerakan masyarakat Jawa atau revolusi sosial masyarakat jawa. Serat Kalatida juga hanya mengingatkan para pejabat dan rakyat Kerajaan Jawa untuk selalu eling dan waspada menghadapi "zaman edan".
Novel bergaya prosa liris Pengakuan Pariyem (1981) karya Linus Suryadi AG, juga mengungkap kritik sosial (social critical) dengan melukiskan nasib penduduk desa yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Novel tersebut berhasil mengungkap dunia batin yang serba pasrah terhadap nasib yang disandang. Melalui simbol tokoh Pariyem, Linus berusaha memancing munculnya gerakan protes kaum wanita (gender) akan penindasan kaum bangsawan serta penempatan posisi wanita sebagai the second sex. Selain itu, Pengakuan Pariyem juga menjadi saksi sejarah mengenai proses urbanisasi besar-besaran, potret kemiskinan, serta culture of poverty daerah tandus yang bernama Gunung Kidul.
Sudah saatnya perdebatan (kubu estetika dan praktis) seputar peran sastra diakhiri. Kedua kubu mesti bergandengan tangan, bersilaturrahmi dan bahu-membahu demi mengentaskan bangsa ini dari krisis. Kolaborasi antara kubu estetis dengan kubu praktis, akan menghasilkan kritik sosial yang berimbang.
Kritik sosial sastra tidak melulu mengobarkan yel-yel dan protes yang gegap-gempita terhadap realitas sosial. Tetapi, perlu dibarengi dengan unsur estetis sehingga sanggup menumbuhkan kesadaran dalam lubuk hati pembacanya tanpa bermaksud menggurui. Pembaca yang hanya melulu disodori berbagai fatwa, nasehat, pepatah dan petitih sosial yang nggegirisi, tak ubahnya membaca sebuah liputan mengenai kejadian demonstrasi atau unjuk rasa yang vulgar. Bisa terjadi miscommunication dan misperseption antara persepsi dan visi penulisnya dengan masyarakat pembacanya.

Kamis, 18 Desember 2008

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu terindah ...

0 komentar
selama ini bangsa  kita terlalu banyak "persaingan" dengan malaysia..
nah sekarang kita lihat, bagaimana jika dilihat dari segi bahasanya..terbukti bahasa kita lebih enak didengar..



INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa ... (oh please...)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Laut hentak2 aer kali yak?)

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!!'
MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!!'

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi ( bijimana cuba ?)

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

INDONESIA : belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : pusing kiri, pusing kanan ( kalo breakdance apaan? )

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuu marie,?)

INDONESIA : 6.30 = jam setengah tujuh
MALAYSIA : 6.30 = jam enam setengah

INDONESIA : gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : percuma berbual 30 minit

INDONESIA : WC
MALAYSIA : tandas

INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling ( ngarep banget di malingin yak mpe di
tungguin)

INDONESIA : Di aduk hingga merata
MALAYSIA : kacaukan tuk datar

INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar

INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara

INDONESIA :bertengkar
MALAYSIA : bertumbuk

INDONESIA : pemerkosaan
MALAYSIA : perogolan

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : joystick
MALAYSIA : batang senang (maksud lho..??)

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang ( kalo tidur malem "gelap tengkurep"
donk )

INDONESIA : Pengacara
MALAYSIA : Penguam

INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh

INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk

INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual

INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat

INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing ke bandar

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..???)

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : ketibaan ( untung bukan ketibanan )

INDONESIA : bersenang-senang
MALAYSIA : berseronok

INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang

INDONESIA : rumah sakit jiwa
MALAYSIA : gubuk gila

INDONESIA : dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila ( lu yang gilaaaaaaaaaaa )

INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : hantu Pocong
MALAYSIA : hantu Bungkus ( pesen atu donk bang?!!!)

Rabu, 10 Desember 2008

Karakter Orang Berdasarkan Golongan Darah nya

0 komentar
1. Karakter Orang Bergolongan Darah B

Orang dengan golongan darah B mer
upakan orang yang paling praktis di antara semua golongan darah yang ada. Mereka adalah spesialis di bidang yang digelutinya. Ketika mereka memulai sebuah proyek, mereka akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk memahami dan mencoba mengikuti semua petunjuk/arahan yang diperlukan untuk itu. Jika mengerjakan sesuatu, mereka selalu fokus kepada apa yang teng
ah dikerjakan. Mereka cenderung berpedoman pada tujuan dan mengejarnya sampai tuntas walau pun kelihatannya pekerjaan itu tidak mungkin dilakukan. Mereka cenderung kurang kooperatif. Mereka lebih suka mengikuti peraturan dan gagasan mereka sendiri. Orang dengan golongan darah B memberikan perhatian lebih kepada pikiran daripada perasaan mereka, dan karenanya, terkadang kelihatannya dingin dan serius.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah B

Ada karakter ada gaya. Orang bergolongan darah B memiliki karakter yang berbeda dengan mereka yang bergolongan darah A. Me
reka lebih praktis, egois, kreatif, optimis dan bebas dalam berpikir. Mereka juga memiliki kecenderungan mengerjakan segala sesuatu secara individual. Oleh karena itu, di Jepang, untuk membentuk sebuah tim yang kuat sehingga motto yang digagas John C. Maxwell: teamwork makes the dream work benar-benar menjadi kenyataan, orang golongan darah B ini biasanya kurang dilibatkan.

Untuk lebih jelas, gaya komunikasi dengan
orang bergolongan darah B berikut dapat dijadikan pedoman:

“ Mulailah pembicaraan dengan runtun, jangan melompat-lompat karena mereka kurang menyukai hal-hal yang tidak teratur.

“ Jangan memulai pembicaraan tanpa mengakhirinya.

“ Gunakan data-data akurat, bukan rekaan.

“ Jika mengajak kerjasama, pastikan bahwa mereka bersedia.

“ Berbicaralah kepada otaknya bukan hatinya. Gunakan lebih banyak fakta rasional daripada sosial.

“ Jangan menggunakan gaya bicara yang terburu-buru.

Orang dengan golongan darah B lebih suka mendengarkan uraian rinci dan runtun. Mereka suka ada awal dan akhir dari sebuah percakapan. Karena mereka sangat concern dengan apa yang t
elah dimulai untuk dapat diakhiri. Mereka tidak suka orang yang berbicara secara tidak jelas dan tanpa pertimbangan rasional karena mereka lebih menggunakan nalar rasio-nya daripada perasaannya.

2. Karakter Orang Bergolongan Darah ‘O’

Orang-orang dengan golongan darah O a
dalah mereka yang tidak banyak ambil pusing, penuh semangat dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka adalah orang yang paling fleksibel di antara semua golongan darah yang ada. Mereka akan dengan cepat memulai sebuah proyek namun mengalami masalah ketika melanjutkannya dan tidak jarang banyak juga yang dengan mudah menyerah di tengah jalan. Mereka terkadang bertingkah dan tidak terlalu dapat dijadikan sandaran. Mereka selalu mengatakan apa yang ada di pikiran mereka secara langsung. Mereka selalu jujur. Mereka menghargai pendapat orang lain dan suka menjadi pusat perhatian. Selain itu, orang-orang bergolongan darah O ini memiliki rasa percaya diri yang sungguh kuat. Di Jepang, golongan darah ini merupakan golongan darah rata-rata orang disana.

Gaya Komunikasi dengan Orang Bergolongan Darah O

Ketika berhadapan dengan orang bergolongan darah O yang penuh semangat dan percaya diri, terus terang, optimistis, terkadang egois dan kreatif, hal-hal berikut dapat dijadikan pedoman:

* Berbicaralah dengan semangat dan penuh vitalitas. Karena mereka kurang menyukai orang-orang yang terkesan lemah, letih, lesu, lemas, letoy, dan loyo yang dianggap tidak dapat mengikuti ritme mereka yang penuh dengan energi.
* Jangan gunakan kata-kata negatif dan pesimis karena kelompok kata itu tidak terdapat dalam kamus mereka yang penuh dengan semangat positif dan optimis.
* Ketika mengikat sebuah kontrak, pastikan dengan tegas bahwa mereka komit dengan apa yang telah disepakati dan dapat bertanggung jawab atas penyelesaiannya.
* Berkatalah dengan jujur karena mereka juga demikian adanya. Sekali kebohongan terdeteksi, mereka tidak akan percaya lagi pada lain kesempatan.
* Tunjukkan bahasa tubuh yang penuh keceriaan dan semangat.

Orang dengan golongan darah O paling suka berkomunikasi dengan mereka yang penuh semangat. Orang-orang yang tidak memiliki semangat hidup yang baik sulit menjadi teman dekat orang golongan ini. Karena mereka selalu semangat sejalan dengan vitalitas yang mereka miliki. Mereka akan dapat berkomunikasi berjam-jam dengan orang yang cocok dan dapat mengikuti ritme bicara mereka yang sangat optimistis dan motivatif.

3. Karakter Orang Bergolongan Darah AB

Orang dengan golongan darah AB susah dikelompokkan. Mereka dapat memiliki karakteristik di kedua ujung spektrum pada waktu bersamaan. Artinya, di satu sisi mereka pemalu, di sisi lain, sangat terbuka. Mereka dengan mudah mengubah satu sisi ke sisi yang lain. Mereka dapat dipercaya dan bertanggung jawab, namun tidak dapat bertanggung jawab jika terlalu banyak yang dituntut dari mereka. Mereka tidak keberatan membantu sepanjang sesuai dengan syarat mereka. Orang-orang dengan golongan darah ini sangat suka seni dan metafisika. AB juga dianggap sebagai tipe darah terburuk di Jepang. Mereka juga suka menentukan syarat sendiri dan berhak menggugurkannya jika tidak sesuai dengan harapan mereka. Mereka dikenal sangat sensitif dan penuh perhatian. Di Jepang, beberapa perusahaan membagi karyawan-karyawannya ke dalam kelompok kerja berdasarkan golongan darah, dan ironisnya, tidak seorang pun yang mau bekerjasama dengan kelompok golongan darah AB di Jepang ! (Jangan terlalu sedih buat yang di Indonesia ya).

Gaya Komunikasi dengan Orang Bergolongan Darah AB

Dengan karakter yang mudah berubah-ubah tergantung kondisi mood tertentu, orang-orang dengan golongan darah AB tentu masih dapat diambil ‘hatinya’ ketika kita berkomunikasi dengan mereka agar mencapai tujuan yang ingin kita raih. Gaya komunikasi yang perlu diterapkan adalah seperti tersebut di bawah ini:

* Pertama-tama, ikuti dulu alur pembicaraan mereka.
* Selanjutnya, berbicaralah secara tegas karena mereka mudah berubah-ubah.
* Bicaralah tentang seni dan metafisika untuk memulai percakapan yang lebih panjang jika hal itu diinginkan.
* Jika membuat janji, pastikan mereka memahaminya dan setuju.
* Jangan ambil keputusan sepihak karena mereka termasuk orang yang suka menentukan sebuah keputusan secara sepihak. Diskusikanlah dengan sinergis.
* Jangan terlalu banyak mengumbar kata dan janji karena mereka sulit mengingat, apa lagi menjalankan kewajiban yang semakin banyak.

Orang dengan golongan darah ini memang sedikit kurang beruntung di Jepang karena dianggap yang paling lemah dan tidak dapat dipercaya. Namun, hal ini tentu sangat kasuistis dan geografis. Hanya saja, dengan memahami karakteristik orang dengan golongan darah ini, banyak hal yang dapat dilakukan untuk tidak menuai kekecewaan nantinya di kemudian hari jika ternyata karakter itu benar adanya. Dan bagi mereka dengan golongan darah AB tentu dapat melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki hal-hal negatif yang benar sesuai dengan penjelasan di atas.

4. Karakter Orang Bergolongan Darah A

Orang dengan golongan darah A memiliki kekuatan karakter yang mengakar kuat yang akan membantu mereka untuk tetap tenang dalam krisis ketika semua orang panik menghadapi situasi serupa. Mereka cenderung menghindari konfrontasi, dan sesungguhnya kurang nyaman berada di antara orang banyak. Mereka biasanya pemalu dan terkadang suka mengasingkan diri. Mereka mencari keharmonisan dan sangat sopan, tetapi mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar cocok dengan orang lain. Mereka sangat bertanggung jawab. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka lebih suka mengerjakannya sendiri. Orang-orang dengan golongan darah ini selalu mengukir sukses dan sangat perfeksionis. Mereka juga sangat kreatif, dan paling artistik di antara semua golongan darah yang ada karena kesensitifan mereka.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah A

* Jangan mengangkat topik yang konfrontatif, misalnya, topik kontroversial karena mereka orang yang tidak suka membuat konfrontasi dengan lawan bicara.
* Gunakan kata-kata yang relatif sopan karena mereka sangat sensitif dan terkadang konservatif sehingga kata-kata yang tidak sesuai dengan standar kesopanan minimal akan dapat menyinggung mereka.
* Jika menjawab usahakan dengan lengkap dan bermakna karena mereka adalah orang yang sangat sempurna dan kurang menyukai hal yang setengah-setengah.
* Mintalah pandangan dan pendapat mereka karena mereka sangat kreatif untuk hal ini dan dengarkan dengan saksama ketika mereka menjelaskan.
* Jangan melebihi mereka saat menyampaikan sesuatu. Artinya, jangan sampai mereka merasa dilampaui dalam hal kepintaran dan pengalaman, misalnya.
* Hargai mereka dengan memuji seperlunya karena pujian yang berlebihan akan membuat mereka ragu dengan ketulusan si pemuji.

Sebagai tambahan, orang golongan darah A cenderung menyukai topik-topik yang bernuansa damai dan kooperatif. Mereka tidak menyukai topik yang berkaitan dengan sepak terjang atau kepribadian orang lain yang tidak ada parameter jelasnya. Mereka sangat sensitif, dalam arti setiap kata yang diterima oleh akal sehat mereka akan menjadi tolok ukur mereka terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Untuk itu, lebih berhati-hatilah jika berhadapan dengan orang golongan darah A ini karena mereka sesungguhnya adalah pengamat yang luar biasa.

Diambil dari (paranjae.multiply.com dan andriewongso.com)

hmmmm..bangun pagi...

0 komentar
Kenapa sih,akhir-akhir ini aku klo bngun selalu siang( eh apa gak dari dulu ya, wah rada lupa).
Untuk kebiasaan yang satu ini , gak tau aku kenapa gak bisa ta ilangin. Kalo soal bangun pagi atau kesiangan ada sebuah puisi dari seorang tokoh terkenal yang juga seorang presiden dan dia juga sebelumnya adalah seorang petani kacang. Inilah puisinya:

Saya bisa saja bangun jam sembilan pagi
dan menjadi petani kacang, atau
bangun jam enam pagi dan
menjadi presiden.
-
( Jimmy Carter,
mantan petani kacang yang
menjadi Presiden Amerika Serikat )

Kalo baca puisi yang hanya empat baris ini aku jadi malu sendiri. Seharusnya semua orang muslim itu lebih berpeluang untuk menjadi seorang presiden dari pada menjadi seorang petani kacang. (wah..gak pernah kebayang aku ingin jadi presiden, mo tak apakan ya negara ini). Ya..semua muslim itu berpeluang atau berpotensi untuk menjadi seorang yang jauh lebih baik. Ini bukan sekedar bangun pagi yang memang menjadi kewajiban seorang muslim untuk melaksanakan shalat subuh. Seperti kata Jimmy Carter di atas, bangun pagi itu tidak sekedar bangun begitu saja namun juga bekerja keras sejak dari pagi dan berfikir untuk tidak ketinggalan oleh orang lain dalam urusan mencapai cita-cita dan harapan.
Ada juga puisi yang sangat aku sukai yaitu:

Menjadi manusia
 
Setiap hari Africa mengawali pagi,seekor rusa bangun.
Tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari seekor singa yang tercepat,atau ia akan terbunuh
 
Setiap pagi seekor singa bangun.
Tahu bahwa ia harus mencari rusa yg paling lambat,atau ia akan mati kelaparan.
 
Tidak masalah apakah kamu adalah seekor rusa atau seekor singa; ketika matahari terbit,lebih baik
Kamu mulai berlari.
 
(puisi tradisional Afrika)

Bagaimana? Puisi yang keren sekali kan.. Kalau dipikir-pikir selama ini aku menjadi seperti siapa ya.. Sepertinya tidak keduanya deh. Dan sepertinya memang selama ini aku selalu ketinggalan dengan orang lain..padahal sejak kecil kita selalu diajarkan untuk selalu bangun pagi. Kalo ga salah sejak sekolah TK kita sudah sering mendengar ungkapan tradisional kita yang mengatakan "JANGAN BANGUN KESIANGAN NANTI REJEKINYA DIPATOK AYAM" kenapa kita tidak pernah memikirkan hal ini. Kadang ada yang bilang "orang kita ini gak punya ayam kok, jadi gak perlu takut".. Wah orang zaman sekarang memang sulit untuk diajari hal-hal yang berguna.

Haahhhh.. Baiklah kalau sudah begini jadi ingat kata-kata AA Gym deh, yang 3M itu lo:
1. Mulai dari diri sendiri
2. Mulai dari hal yang terkecil
3. Mulai dari sekarang

Ya semoga kita dapat menjadi orang yang lebih baik, dengan membiasakan bangun lebih pagi dan berusaha menjadi rusa atau singa afrika agar rejeki kita tidak di patok ayam lagi.

Selasa, 04 November 2008

Tentang membaca cepat

1 komentar

Beberapa waktu yang lalu saya ikut dalam pelatihan yang di sebut "speed reading". Ini pertama kali saya ikut pelaihan seperti ini. Saya ikut karena di ajak teman dan juga karena emang penasaran dengan acara semacam ini. Bagi sebagaian orang mungkin tidak asingdengan acara semacam ini, mungkin malah sudah banyak yang pernah ikut. Tapi saya juga yakin kalau masih jauh lebih banyak yang belum pernah mengikuti dan hanya pernah dengar atau hanya melihat browsurnya saja, bahkan saya yakin juga kalau masih banyak yang baru dengar istilah ini.

Sebenarnya tidak sulit membayangkan apa sih acara semacam ini. Dari namanya saja sudah dapat ditebak "speed reading", pasti seputar kecepatan dan mambaca. Dan kalau ini sebuah pelatihan berarti pelatihan tentang membaca cepat. Dan memang saat saya ikut tak meleset sedikitpun kalau acara ini adalah tentang diajari teknik dan trik membaca dengan cepat.

Sebelumnya saya akui kalau membca saya lambat bahkan sangat lambat, namun setelah mengikuti acara ini masih tetap lambat:p (maaf, memang begini adanya).. Akan tetapi dalam acara ini kami (karena yang ikut juga lumyan banyak) diajari teknik untuk berkonsentrasi agar bisa tetap fokus. Teknik tentang cara mata memandang bacaan dan seterusnya. Semuanya itu membuat saya tidak nyaman, karena saya merasa memaksakan diri saya (dasarnya sayaitu emang males). Kemudia di akhir acara , banyak dari peserta mengalami kemajuan dalam kecepatan membacanya. Saya pun ternyata juga dapat meningkat, meski saat itu saja sayadapat membaca cepat dan tanpa tahu isi dari bacaan yang saya baca. Sang treiner mengatakan "kalau hal ini sering dilatih maka kecepatan membaca kita akan lebih cepat". Kata-kata ini sangat terngiang-ngiang di pikiran saya (bukan ditelinga, orang tidak kedegeran hanya terasa dipikiran bilang begitu). Dan hal inilah yang membuat saya mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya yang akan dapat meningkatkan kecepatan membca kita bukanlah teknik-teknik yang sedemikian rumit tadi. Mungkin sebagian orang akan bilang kalau teknik itu sangat berpengaruh, saya juga tidak menyalahkan pendapat ini. Namun, menurut saya yang menjadi faktor utama dari peningkatan kecepatan membaca adalah tentang "keseringan membaca kita" 9seperti yang dikatakan treiner kalau sering dilatih akan membuat kita dapat membaca cepat". Nah..yang membuat kita akan dapat membaca dengan cepat ini adalah rutinitas dan kontinuitas kita dalam membaca. Jadi dengan sering membaca kita akan terbiasa dengan tulisan, mata kita akan terbiasa dengan tulisan. Dan di akhir kesimpulan saya bahwa dengan sering membaca, maka kecepatan membaca kita juga akan meningkat dan hal ini tidak perlu dengan mengikuti pelatihan semacam Speed reading..

Oleh karena itu sering0seringlah membaca.. Orang yang banyak membaca akan tau lebih dari pada orang yang tidak membca (ya jelas lah gimana sih).. Maksudnya, seberuntung-beruntungnya orang yang tidak membaca masih beruntung orang yang suka membaca..

Ingat….!!!

MEMBACALAH..!

MEMBACALAH..!

(baca dengan gaya bang napi)

Membaca itu tidak perlu, tapi butuh..!!

0 komentar

Hampir setiap hari dan dimana pun jika orang bertanya bagaimana agar bisa membuat tulisan yang bagus, jawabannya pasti "kamu harus banyak membaca".. Kemudian jika ada pertanyaan bagaimana agar dapat pintar atau dapat nilai bagus pasti jawabannya "kamu harus banyak membaca"

Sebenarnya kita tau atau lebih tepatnya bosan dengan jawaban yang sesungguhnya kita sudah tau. Membaca memang dapat membuat kita jadi seperti apa pun yang kita mau. Membaca membuat kita banyak tau hal dan dengan tau juga bisa melakukan banyak hal. Kita semua tau hal ini. Tapi kenapa kesadaran kita untuk membaca itu yang sangat kurang.

Bagi semua orang apalagi kita sebagai seorang MAHASISWA yang katanya kaum terpelajar tentunya tidak perlu untuk membaca, TAPI BUTUH..!!! Membaca bukan sesuatu yang perlu atau diperlukan, tapi dibutuhkan. Seperti halnya kita setiap hari butuh makanan agar tetap sehat dan hidup. Demikian juga dengan kebutuhan akan membaca. Dengan membaca otak kita akan sehat dan hidup, tentunya dengan membaca bacaan yang bermutu. Dengan otak yang sehat tentunya tubuh juga akan sehat. Otak adalah sumber kekuatan bagi tubuh, dan makanan otak adalah ilmu, dan ilmu didapat dari membaca.

Dengan demikian marilah mulai sekarang kita budayakan membaca. Jangan buang waktu tanpa ada guna, membaca adalah pilihan tepat untuk mengisi waktu luang. Ungkapan itu memang benar, tapi yang lebih benar adalah "luangkan waktu sibukmu untuk membaca". Semoga kita menjadi orang-orang yang gemar membaca, menjadi sahabat buku (jangan kutu buku, gak enak didenger). Dan menjadi manusia yang lebih bermakna.

Minggu, 02 November 2008

0 komentar

Pengalaman Pramugari China Airline

orang tua

True Story ……………

Mudah2an kisah nyata ini bisa menjadi renungan & motivasi bagi kita semua untuk mendapatkan inspirasi seperti pramugari ini. Semoga Bermanfaat..

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayanipenumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking ,penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkulsebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saatitu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesanpertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah majuseorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketikamelewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, diaduduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karungtua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikantangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatasbagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannyaduduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat diaduduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan jugaditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah diasakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilettetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takutmerusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya danmenyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saatmenyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannyakami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kamimengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah,kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini denganspontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkankepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidakpercaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa hausdan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidakdiladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghematbiaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandarabaru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapatmeminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupunkebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenangmeminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik,putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliahditingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemputkedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali kedesa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunyadi Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobilbegitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemanibapaknya bersama-sama ke Peking , tetapi ditolak olehnya karenadianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikerasdapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anakbungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruhmenitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikerasmembawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebutakan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur,akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasitempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakankarung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, diaselalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi diatetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudahsangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil diamenanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakanmakanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernahmelihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebutuntuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimataseorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, denganterharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kamibagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akankami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolakpemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakantidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulustersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaranberharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapisiapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, diayang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintupesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidakbisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembahkami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakanbahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yangbegitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidakmemandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik,saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangisdia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya danmenyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluardari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpangsudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain,tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanyamenjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yangkami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tuayang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkanterima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering danmenahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidakbersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebutmembuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangatberharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang daripenampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang danmensyukuri apa yang kita dapat.



sumber : http://www.yauhui.net/kisah-nyata-pengalaman-pramugari-china-airline/

Senin, 27 Oktober 2008

1 komentar
Berikut ini tulisan Goenawan Mohammad untuk acara Nurcholish Madjid Memorial Lecture II di Universitas Paramadina. Semoga bermanfaat dan jadi bahan diskusi kita semua.

Demokrasi dan
Disilusi
Oleh Goenawan Mohamad
(Orasi ilmiah disampaikan dalam rangka Nurcholish Madjid
Memorial Lecture II, di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, 23
Oktober 2008.)

I.

17 Oktober 1953: di pagi hari itu, sekitar 5000
orang muncul di jalanan Jakarta. Pada pukul 8, mereka sudah berhimpun di luar
gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Tak jelas siapa yang memimpin dan organisasi apa
yang mengerahkan mereka, tapi yang mereka tuntut diutarakan dengan tegas:
“Bubarkan Parlemen”. Kata sebuah poster, “Parlemen untuk Demokrasi, bukan
Demokrasi untuk Parlemen”.

Tak lama kemudian mereka memasuki gedung
perwakilan rakyat itu, menghancurkan beberapa kursi dan merusak kantin yang
biasanya diperuntukkan bagi para legislator. Dari sini, rombongan demonstran
bergerak ke jalan lagi. Peserta makin bertambah besar. Akhirnya mereka, mencapai
30 ribu orang banyaknya, sampai ke Istana Negara. Mereka ingin menghadap
Presiden. Bung Karno, yang mengetahui apa yang dituntut para demonstran itu,
akhirnya muncul. Dalam pidato singkat ia mengatakan: ia tak akan membubarkan
Parlemen. Ia tak ingin jadi diktator. Ia hanya berjanji pemilihan umum akan
diselenggarakan segera.

Ringkas kata, Bung Karo menolak. Tapi rekaman
ucapannya menunjukkan bahwa ia juga punya ketidaksukaan yang sama kepada
“demokrasi liberal” yang dianggapnya sebagai cangkokan “Barat” itu. Di tahun
1958, ia membubarkan dewan perwakilan pilihan rakyat dan mengubah Indonesia
dengan menerapkan “demokrasi terpimpin”.

Sistem ini kemudian berakhir di
tahun 1966, ketika “Orde Baru” memperkenalkan format politik yang disebutnya
“demokrasi Pancasila” – yang sebenarnya merupakan varian baru bagi “demokrasi
terpimpin”. Boleh dikatakan, dalam “Orde Baru”, sebagian dari yang dikehendaki
para penuntut pada tanggal 17 Oktober itu dipenuhi. Kita tahu, seperti dicatat
oleh Herbert Feith dalam The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia,
bahwa para perwira Angkatan Darat berada di belakang aksi hari itu. Sementara
Bung Karno berpidato, militer memasang dua buah tank, beberapa panser, empat
batang kanon yang ditujukan ke Istana: penegasan agar Presiden membubarkan
Parlemen dan melikuidasi demokrasi liberal. Kita kemudian tahu, dalam “demokrasi
Pancasila” yang ditegakkan Angkatan Darat, DPR memang dipilih secara reguler,
tapi pada akhirnya, konstruksi sang penguasa – dalam hal ini Suharto – yang
menentukan. Berangsung-angsur, kekuasaan berkembang dari sifat
“birokratik-otoriter” menjadi otokratik. Suharto mengulangi posisi Bung Karno
sebagai “Pemimpin Besar Revolusi”, dengan gelar yang berbeda.

Di tahun
1998, otokrasi Suharto itu rubuh. Indonesia mendapatkan “demokrasi liberal”-nya
kembali. Satu dasawarsa kemudian, kita masih tampak percaya kepada demokrasi ini
– jika itu berarti pemilihan umum yang regular, partisipasi masyarakat pemilih
lewat partai, pembentukan undang-undang melalui para legislator di parlemen,
pengawasan kinerja kabinet dari sebuah lembaga negara yang dipilih rakyat. Tapi
akan bertahankah kepercayaan itu?

Kita bisa menduga – melihat betapa
korupnya para anggota DPR sekarang, melihat tak jelasnya lagi alasan hidup
partai-partai, kecuali untuk mendapatkan kursi – Indonesia sedang memasuki
sebuah masa, ketika rakyat – dengan hak penuh untuk memilih dan tak memilih –
akan mencemooh, bahkan mencurigai, para pemegang peran dalam demokrasi
parlementer yang ada.

Saya tak akan meramalkan bahwa “Peristiwa 17
Oktober” baru akan terjadi segera. Tapi saya kira siapa pun bisa melihat, kita
akan hidup dengan harapan-harapan yang retak kepada demokrasi liberal. Dan tak
akan mengherankan bila kita akan segera mendengar kecaman seperti yang pernah
diutarakan novelis, Pemenang Nobel, Saramago: “Pemiihan umum telah jadi
representasi komedi absurd, yang memalukan”.

Dalam pembicaraan saya hari
ini, saya akan mencoba menunjukkan, bahwa disilusi seperti itu memang tak akan
terelakkan. Persoalannya kemudian, sejauh mana dan dalam bentuk apa demokrasi
bisa dipertahankan.

II.

Demokrasi – sebagaimana kediktaturan –
menjaga dirinya dari khaos. Ia jadi bentuk yang harus praktis dan terkelola. Ia
dibangun sebagai sistem dan prosedur.

Tapi sebagai sebuah format, ia tak
dapat sepenuhnya menangkap apa yang tak praktis dan yang tak tertata. Salah satu
jasa telaah kebudayaan dan teori politik mutakhir ialah pengakuan terhadap
pentingnya apa yang turah, yang luput tak tertangkap oleh hukum dan bahasa, yang
oleh Lacan disebut sebagai le Riel (dalam versi Inggris, the Real), dan yang
saya coba terjemahkan di sini sebagai “Sang Antah”.

Dengan itu sebenarnya
ditunjukkan satu kekhilafan utama dalam pemikiran politik yang mengasumsikan
kemampuan “representasi”. Pengertian “representasi” dimulai dari ilusi bahasa,
bahwa satu hal dapat ditirukan persis dalam bentuk lain, misalnya dalam kata
atau perwakilan. Ilusi mimetik ini menganggap, semua hal, termasuk yang ada
dalam dunia kehidupan, akan dapat direpresentasikan. Seakan-akan tak ada Sang
Antah.

Namun baik oleh teori “demokrasi radikal” yang diperkenalkan
Laclau dan Mouffe, dengan menggunakan pandangan Gramsci, maupun oleh pemikiran
politik dengan militansi ala Mao dalam pemikian Alain Badiou, kita ditunjukkan
bahwa sebuah tata masyarakat, sebuah tubuh politik, adalah sebentuk scene yang
tak pernah komplit. Senantiasa ada yang obscene dalam dirinya, bagian dari Sang
Antah, yang dicoba diingkari. Tapi yang obscene – yang tak tertampung dan tak
dapat diwakili oleh tubuh politik yang ada – justru menunjukkan bahwa scene itu,
atau tata masyarakat yang kita saksikan itu, tak terjadi secara alamiah. Menurut
Laclau dan Mouffe, tata masyarakat itu lahir dari hubungan antagonistis. Ia
merupakan hasil perjuangan hegemonik. Itu sebabnya suatu tubuh politik yang
tampak stabil mau tak mau dihantui oleh pertentangan – yang membuatnya hanya
kwasi-stabil.

Dari pandangan seperti itu demokrasi, sebagai sebuah
format, memang terdorong hanya merawat tubuh politik yang kwasi-stabil itu.
Sebagai akibatnya, ia cenderung mengubah antagonisme dan perjuangan hegemonik
itu jadi majal: demokrasi acapkali menghentikan proses politik dengan
mendasarkan diri pada sebuah suara terbanyak atau sebuah konsensus. Dengan itu
apa yang dianggap menyimpang, apa yang obscene, disingkirkan. Maka ia tampak
sebagai sesuatu yang tak hendak membuka diri pada alternatif-alternat if baru.

Contoh yang segera dapat dilihat adalah Jepang; di sana, kekuasaan
Partai Liberal Demorasi (LDP) berlangsung hampir tak berhenti-hentinya. Hal yang
sama dapat dikatakan tentang demokrasi Amerika. Hari-hari ini, justru di sebuah
masa ketika suara untuk perubahan yang dibawakan Obama terdengar nyaring,
sebetulnya tak tampak dahsyatnya “perubahan” yang disuarakannya.

Pernah
saya katakan, demokrasi adalah sistem dengan rem tersendiri – juga ketika
keadaan buruk dan harus dijebol. Pemilihan umum, mekanismenya yang utama, adalah
mesin yang mengikuti statistik. Tiap pemungutan suara terkurung dalam “kurva
lonceng”: sebagian besar orang tak menghendaki perubahan yang “ekstrem”.
Statistik menunjukkan ada semacam tendensi bersama untuk tak memilih hal yang
mengguncang- guncang. Statistik itu status quo.

Dalam haribaan “kurva
lonceng”, Obama tak akan bersedia mengubah politik Amerika dengan yang baru yang
menggebrak. Akan sulit kita menemukan perbedaan pandangannya tentang Palestina
dari posisi Bush. Ia, yang harus mencari dukungan lobi Israel di Amerika, tak
akan nekad bilang akan mengajak Hamas ke meja perundingan. Ia tak akan berani
menampik sepenuhnya hak orang Amerika memiliki senjata api pribadi, meskipun
korban kekerasan di negeri itu tak kunjung reda. Ia tak akan bertekad mengubah
sikap orang Amerika yang cenderung memandang perang sebagai kegagahan patriotik,
bukan kekejaman.

Seraya bersaing ketat dengan McCain, Obama – yang
memproklamasikan diri sebagai pemersatu Amerika, negarawan yang akan
menyembuhkan negeri yang terbelah antara “biru” dan “merah” – akan tampil
sebagai si pembangun konsensus.

Tapi konsensus tak akan mudah jadi wadah
bagi perubahan yang berani. Di Spanyol di tahun 1982, misalnya, ketika
kediktatoran Franco sedang digantikan dengan demokrasi yang gandrung perubahan.
Felipe Gonzáles Márquez, waktu itu 40 tahun, memikat seluruh negeri. Partai
Sosialisnya menawarkan lambang kepalan tangan yang yakin dan mawar merah yang
segar. Semboyannya: Por El Cambio. Ia menang. Ia bahkan memimpin Spanyol sampai
empat masa jabatan. Tapi berangsur-angsur, partai yang berangkat dari semangat
kelas buruh yang radikal itu kian dekat dengan kalangan uang dan modal. Di bawah
kepemimpinan Gonzáles, Spanyol jadi anggota NATO dan mendukung Amerika dalam
Perang Teluk 1991.

Sebagai tanda bagaimana demokrasi tak menginginkan
yang luar biasa, Partai Sosialis menang berturut-turut. Mungkin itu indikasi
bahwa “perubahan” pada akhirnya harus dibatasi oleh sinkronisasi pengalaman
orang ramai. Di haribaan “kurva lonceng”, kehidupan politik yang melahirkannya
kehilangan greget yang subyektif. Keberanian disimpan dalam
laci.

III.

Tapi mungkinkah sebuah masyarakat bisa berhenti dan
proses politiknya tak tersentuh oleh waktu?

Pertanyaan retoris ini
penting. Di dalamnya tersirat adanya harapan – di suatu masa ketika utopianisme
Marxis digugat, tapi ketika pada saat yang sama pragmatisme ala Richard Rorty
tampak tak memberikan daya bagi perubahan yang berarti.

Tapi untuk itu,
memang diperlukan penyegaran kembali tentang apa arti “politik”
sebenarnya.

Sebuah buku yang dengan amat baik memaparkan pemikiran
politik kontemporer, Kembalinya Politik (Jakarta, 2008), menguraikan “dua muka
yang terpisah” dalam pengertian “politik”:

Yang pertama adalah sisi di
mana politik terjadi sebegitu saja dalam rutinitas kelembagaan dan perilaku
aktor-aktornya…Yang kedua adalah politik yang diharapkan, yang tersimpan secara
potensial, tidak teraktualisasi: politik sebagaimana diidamkan, yang tertekan di
bawah instansi ketaksadaran.

Dalam pengantarnya, Robertus Robet dan Ronny
Agustinus menunjukkan kemungkinan – atau malah kenyataan – ketika demokrasi
“telah membunuh politik” dan “menggantikannya dengan konsensus”.

Dengan
kata lain, “politik” yang di-“bunuh” itu adalah politik sebagai proses
perjuangan, bukan politik sebagai saling tukar kekuasaan dan pengaruh
sebagaimana yang terjadi melalui pemilihan umum dan negosiasi legislatif dewasa
ini di Indonesia. “Politik” yang seperti itu sebenarnya hanya mengukuhkan tubuh
sosial yang seakan-akan sepenuhnya direpresentasikan Parlemen. “Politik” yang
seperti itu berilusi bahwa kita bisa mengabaikan Sang Antah. “Politik” yang
seperti itu adalah bagian yang bersembunyi dari apa yang disebut Rancière la
police: struktur yang diam-diam mengatur dan menegakkan tubuh itu.

Di
sini sebuah pemaparan selintas tentang teori Rancière agaknya diperlukan.

La police itu (mungkin ada hubungan kata ini dengan “polis” sebagai
negeri dan “polisi” sebagai penjaga ketertiban) bersifat oligarkis. Tubuh sosial
mengandung ketimpangan yang tak terelakkan; selamanya ada yang kuat dan ada yang
lemah, yang menguasai dan dikuasai.

Tapi la police itu tetap saja tak
bisa membentuk sebuah satuan sosial yang komplit. Di dalam hal ini, pemikiran
Rancière juga menunjukkan bahwa satuan itu kwasi-stabil sebenarnya. Sebab bahkan
la police tak akan bisa mengabaikan, bahwa yang kuat hanya kuat jika ia diakui
demikian oleh yang lemah – meskipun dengan mengeluh dan marah. Dengan kata lain,
si kuat diam-diam mengasumsikan adanya posisi dan potensi si lemah untuk memberi
pengakuan. Bagi Rancière, itu berarti nun di dasar yang tak hendak diingat, ada
kesetaraan antara kedua pihak.

Di situ kita menemukan bagaimana sebuah
negeri, polis, hidup: ada la logique du tort. Ada sesuatu yang salah dan
sengkarut, tapi dengan begitu berlangsunglah sejarah sosial. Di dalam “logika”
itu, ketegangan terjadi, sebab hirarki yang membentuk masyarakat justru mungkin
karena mengakui kesetaraan. Ketegangan dalam salah dan sengkarut itulah yang
melahirkan konflik, guncangan pada konsensus, dan polemik yang tak
henti-hentinya. Ranciere mengakui, selalu ada sebuah arkhe, sebuah dasar untuk
membenarkan timpangnya distribusi tempat dan bagian dalam masyarakat, tapi ia
menunjukkan bahwa arkhe itu selamanya bersifat sewenang-wenang.

Dari itu
terbit la politique: sebuah pergulatan. Ia bukan seperti aksi komunikasi ala
Habermas: di arena itu tak ada tujuan untuk bersepakat; di medan itu yang hadir
bukanlah sekedar usul dan argumen yang berseberangan, tapi tubuh dan jiwa,
“perbauran dua dunia”, “di mana ada subyek dan obyek yang tampak, ada yang
tidak”.

Agaknya yang tak tampak itulah yang menyebabkan la politique,
atau politik sebagai perjuangan, mendapatkan makna sosialnya. Sebab yang
menggerakkan adalah mereka yang bukan apa-apa, yang tak punya hakikat dan asal
usul untuk menang.

Walhasil, selalu akan ada ketegangan antara la police
dan la politique. Sebuah tubuh sosial akan bergerak, tak mandeg, dalam
ketegangan itu. Di sini Rancière memperkenalkan istilah lain, le politique,
untuk menyebut proses mediasi antara kekuatan yang menjaga demokrasi sebagai
format dan politik sebagai perjuangan ke arah kesetaraan.

Berbeda dari
Badiou, Rancière – yang menyebut keadaan demokrasi liberal sekarang sebagai
“pasca-demokrasi” – masih menaruh kepercayaan akan peran demokrasi parlementer
dan kemampuan perundang-undangan dalam perjuangan ke keadilan.

Tapi
Ranciere bukanlah orang yang menganggap bahwa demokrasi parlementer dengan
sendirinya adil. “Politik” sebagai perjuangan, “politik” sebagai la politique,
itu sesuatu yang tak secara rutin terjadi. Bahkan jarang terjadi. Demikian pula,
tanpa menyebut saat demokratik sebagai “kejadian” (l’événement) yang luar biasa,
Rancière menganggap dalam sistem demokrasi yang ada, saat demokratik sejati tak
selamanya didapatkan.

IV.

Dengan memakai pemikiran Rancière, saya
berharap dapat menunjukkan bahwa disilusi terhadap demokrasi liberal adakah
sesuatu yang sah dan harus dinyatakan.

Tuntutan akan kesetaraan – dan
dalam pengertian yang lebih luas: keadilan – adalah tuntutan yang tak akan
habis-habisnya. Ia lahir dari apa yang tak hendak dilihat oleh sistem yang ada.
Ia lahir dari yang obscene, dari yang turah dari representasi, ia adalah gaung
Sang Antah yang tak tertampung.

Tapi haruskah kita menghancurkan
demokrasi, karena menganggap bahwa demokrasi semata-mata format, bukan sebuah
proses pergulatan, bukan arena la politique? Jalan itu ada: “nihilisme aktif”
dalam pengertian Simon Critchley, ketika ia menguraikan pendiriannya tentang
“etika komitmen” dan “politik perlawanan” dalam Infinitely Demanding (Verso,
2008). Nihilisme aktif inilah yang dilakukan misalnya oleh teror Al Qaedah –
yang pada gilirannya juga tak menumbangkan demokrasi liberal, bahkan
memperkuatnya: makin kukuhnya aparat keamanan negara merupakan peneguhan dari la
police.

Satu-satunya jalan yang masih terbuka adalah selalu dengan setia
mengembalikan politik sebagai perjuangan. Jalan yang ditempuh tak bisa
dirumuskan sebelumnya; selalu diperlukan keluwesan untuk memilih metode, baik
melalui perundang-undangan atau justru melawan perundang-undangan, baik melalui
partai ataupun melawan partai.

Artinya, tiap kali kita membiarkan diri
untuk didesak oleh panggilan akan keadilan yang tak pernah akan membisu.
***

Followers

 

WYroom. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com