Sabtu, 02 Mei 2009

Rani Juliani, Caddy Golf yang Mendadak Terkenal setelah Kasus Penembakan Nasrudin Idola Para Pegolf Pejabat, Tarif Tip Rp 1 Juta

0 komentar


Disebut sebagai wanita di balik misteri hubungan segi tiga antara Ketua KPK Antasari Azhar dengan Nasrudin Zulkarnain, direktur PT Putra Rajawali Banjaran yang menjadi korban pembunuhan di Tangerang (14/3), nama Rani Juliani kini langsung meroket. Siapa dia sebenarnya? Inilah hasil penelusuran tim Indopos (Jawa Pos Group).

---------------

SEJAK peristiwa penembakan terhadap Nasrudin Zulkarnain, salah seorang direktur anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), di kawasan Apartemen Modernland, Kelurahan Kelapa Indah, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, 14 Maret lalu, rumah Rani Juliani di Kampung Kosong, Kelurahan Panunggangan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, tampak sepi.

Rumah bercat putih, berterali besi, dan halamannya penuh bunga itu terlihat tak berpenghuni sejak 16 Maret lalu. Rani dan keluarganya bak menghilang ditelan bumi.

''Kami mengenal gadis itu Rani, bukan Tika (nama samaran Rani). Dia punya adik satu yang tinggal di rumah tersebut bersama ayah dan ibunya. Tapi, sejak peristiwa penembakan Zul (panggilan Nasrudin Zulkarnain), keluarga tidak pernah lagi terlihat di rumahnya,'' ungkap Bogoh, 25, seorang montir bengkel yang tinggal di dekat rumah yang beralamat di RT 01/04 nomor 8 tersebut.

Dia juga menuturkan bahwa keluarga Pak Endang -nama ayah Rani- sangat tertutup kepada tetangga. Begitu pula dengan Rani. Wanita 22 tahun itu jarang bergaul dengan warga setempat.

Menurut tetangga lain, Rani mengungsi ke Serang, Jawa Barat. ''Kakek-neneknya di Serang,'' ujarnya lalu mewanti-wanti agar namanya tidak disebut. Di Serang bagian mana? ''Saya tidak tahu,'' tegasnya.

Rumah orang tua Rani di Kampung Kosong ditinggalkan setelah Nasrudin tewas tertembak. Keluarga Endang merasa tidak tenang karena setiap hari menjadi perhatian masyarakat. Apalagi, status Rani disebut-sebut sebagai pemicu di balik penembakan Nasrudin.

Bahkan, sejak pertengahan Maret lalu, Rani diketahui beberapa kali diperiksa di Polres Tangerang. Setelah itu, jejaknya tak diketahui. ''Rani cantik, kulitnya putih. Pekerjaannya kalau tidak salah di lapangan golf,'' ungkap Asrofah, 35, pemilik warung dekat rumah Rani.

Menurut dia, Rani menikah dengan Nasrudin pada 2005. ''Pak Zul datang ke sini seminggu dua kali,'' jelasnya. Asrofah juga menuturkan bahwa Pak Zul kerap membawa BMW bernopol B 191 E saat datang ke rumah Rani. ''Itu memang orangnya dan itu suami Rani,'' katanya.

Rani memang menjadi istri ketiga Nasrudin dengan nikah siri. Hanya keluarga dekat yang datang menjadi saksi pernikahan mereka. Nasrudin dikenal royal. Pria asal Makassar tersebut bahkan dilaporkan warga pernah mengajak jalan-jalan keluarga Rani berlibur ke Bali sebelum musim haji lalu.

Nasrudin juga membiayai kuliah Rani di Jalan Jenderal Sudirman, Cikokol, Tangerang. ''Rani disekolahkan Nasrudin diGreen Campus,'' katanya. Green Campus adalah sebutan untuk STMIK Raharja, tempat kuliah Rani.

Berdasar penelusuran Indopos (Jawa Pos Group), Rani juga bekerja sebagai salah seorang caddy di Padang Golf Modern di Kompleks Modernland, Pinang, Kota Tangerang.

Wanita kelahiran 1 Juli 1986 tersebut juga dikenal sebagai caddy favorit di klub golf itu. Wajahnya yang manis dan pembawaannya yang luwes membuat dirinya laris menjadi pendamping member klub golf di lapangan.

Siska, 20, caddy yang sejak tahun 2005 bekerja di sana, ditemani dua temannya, Nia, 22 dan Wina, 23, mau melayani pertanyaan koran ini. Ketiga wanita berpakaian modis itu bercerita tentang teman kerjanya Rani Juliani. "Saya pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan Rani. Tapi tidak terlalu dekat," ujar Siska yang mengaku nge-kost di daerah Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang yang tidak jauh dari tempat dia bekerja. Siska mengaku tiap bulan penghasilannya tidak tetap.

"Kalau dari kantor paling banyak gaji Rp 700 ribu sebulan. Tapi, penghasilan kami bisa lebih dari Rp 2 juta dengan tambahan tips yang diberikan tamu. Tergantung rejeki," ujar wanita betubuh mungil tersebut. Dia menceritakan, kalau Rani yang kurang dari dua tahun bekerja di sana dan berhenti pada tahun 2006. "Pak Nasrudin memang sering booking Rani," ujar Siska lagi.

Selain Nasrudin, Rani juga kerap di-booking oleh pejabat lain untuk menemani bermain golf. Tugas, caddy adalah memandu pemain golf di lapangan dengan luas 85 hektar yang berlokasi di dua kecamatan yakni Cipondoh dan Pinang di Kota Tangerang.

Di lapangan golf satu-satunya di Kota Tangerang itu ada sekitar 250 orang caddy, yang terdiri dari 200 wanita dan 50 pria. Ada dua shift dalam pembagian kerja kedi yakni yang bertugas mulai pukul 06.00 hingga pukul 12.00 dan pukul 13.00 hingga pukul 16.00 malam. Dia kembali menceritakan Rani yang memiliki postur tubuh tinggi 165 sentimeter dengan berat badan ideal.

Jadi, jangan heran bila Rani banyak yang mem-booking. "Kalau kami dalam satu shift belum tentu bisa merumput atau ada yang meminta. Tapi, kalau Rani sudah punya jadwal melayani golfer yang dibuatkan oleh front office (kantor pengelola Golf Modern, Red)," ungkapnya lagi. Sementara itu, Nia juga ikut bicara perihal hubungan Rani dengan teman kerjanya yang lain.

"Dia (Rani, Red) hanya bergaul dengan caddy tertentu. Mungkin karena dia cantik. Untuk bersapa saja dengan kami jarang walau berpapasan. Dia emang cantik banget," ujar wanita berambut pendek tersebut. Rani yang memiliki rambut panjang sebahu itu memang cukup terkenal di padang golf ini. "Dia (rani, Red) caddy primadona di sini. Tapi itu dulu, saat masih bekerja disini," ujarnya.

Rani memang menjadi idola para pejabat. Karena itu, dia pasang tarif mahal. Uang tip untuk Rani juga cukup besar. Sekali putaran bisa dapat Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. ''Rani itu termasuk caddy mahal di sini. Maksudnya, uang tipnya banyak. Yang booking untuk jadi caddy juga banyak. Dia biasanya sama pejabat,'' ucap Nurmalasari, salah seorangcaddy di Padang Golf Modern.

Untuk bisa mendapat caddy mahal di Modern, seorang member atau pemain golf harus merogoh kocek minimal Rp 500 ribu hingga lebih dari Rp 1 juta per sekali putaran. ''Rani terkenal di sini karena termasuk caddy mahal dan jadi primadona,'' jelas caddy yang juga rekan Rani yang enggan namanya dikorankan.

Salah seorang member klub yang menjadi langganan ditemani Rani adalah Nasrudin. ''Sejak tiga tahun lalu, Nasrudin menjadi member di sini,'' jelas Iwan Suryawijaya, salah seorang petinggi PT Modernland Realty, pengembang Perumahan Modernland.

Selain Nasrudin, Ketua KPK Antasari Azhar menjadi member di klub tersebut. ''Kalau Pak Antasari, saya tidak ingat sejak kapan dia jadi member di klub golf ini. Tapi, belum lama,'' ujarnya. Ketika menjadi caddy, Rani memang selalu mendampingi Nasrudin di lapangan. Dia juga menyatakan bahwa saat itu Nasrudin kerap bermain golf. Seminggu bisa sampai tiga kali. ''Kadang lebih,'' katanya.

Sementara itu, Direktur STMIK Raharja PO Abas Sunarya mengaku tidak bisa mengingat apakah Rani Juliani adalah mahasiswinya atau bukan. ''Tidak bisa dipastikan karena nama Rani banyak,'' ungkapnya.

Rani juga punya blog. Alamatnya: rani-juliani.blogspot.com. Di blog itu muncul nama Rani Juliani yang juga kuliah di STMIK Raharja, berusia 22 tahun dengan bintang Cancer. Shio-nya macan. Dia menyebut dirinya mahasiswi dan berlokasi di Tangerang, Banten.

''Saya seorang gadis yang manies menurut pengamatan orang-orang di sekeliling aq. Diriku lahir pada tanggal 01 Juli 1986. Jangan lupa ngado yah... Anak ke-3 dari 4 sodara, tadinya mau bungsu, tapi bonyok gw doyan... he he Minat,'' begitu tulisan di blog tersebut.

Dia bercita-cita menjadi wanita karir yang sukses dan mapan. Film favoritnya James Bond dan lagu kesukaannya adalah lagu-lagu cinta.

Alasan dirinya melanjutkan studi di STMIK Raharja juga dipaparkan panjang lebar. Dalam sebuah chatting terakhir, pukul 15.08, 1 Mei 2009, ada komunikasi dengan chatter lain yang bernama Tongki. ''Tongki: 'Enak mana nasrudin ama antasari... lo biasa caddy, tp hole lo yang dimasukin ya hehe...''

Ada juga komunikasi chatting dengan Tingting. ''Tingting: ''tp hebat juga lo bkn pr hidung belang mati n masuk penjara.'' Chatting itu terjadi pukul 14.09 sebelum chatting dengan Tongki.

Dalam chatting itu, teman wanita Rani menyebut nama Antasari dan Azhari. Wanita dalam blog itu memang mirip Rani yang digambarkan menjadi istri ketiga Nasrudin.

Selain menjadi caddy, tampaknya, Rani juga pernah menjadi marketing Klub Golf Modern. Namun, tak lama setelah itu, dia keluar dari pekerjaannya. ''Dia pernah pindah ke marketing, tapi sekarang sudah keluar,'' ungkap Yusri Jayadi,caddy master Modern Golf.(din/ind/rko/jpnn/iro)


sumber : jawapos.com

Senin, 27 April 2009

MUSUH BARU WARNET

0 komentar
selama ini kebanyakan orang ber internetan pergi ke warnet ato klo cm mo buka facebook buka lewat HP(yang memiliki fasilitas terbatas)..
kemudian muncul bermacam2 layanan internet dari bermacam2 pula operator seluler yang menawarkan iternet murah yang bisa di pake untuk modem di komputer. dan yang paling populer dari sekian banyak layanan internet adalah IM2 dari Indosat. namun, seiring jalannya waktu IM2 di rasa semakin hari kualitasnya semakin menurun. banyak orang yang meninggalkannya dan beralih (mencoba) ke layanan internet operator lain.
kini Indosat seperti tidak ingin kehilangan pelanggan internetnya segera mengeluarkan produk terbarunya yaitu Voucer internet untuk pengguna IM3 dan mentari..


Makin Bebas Ber-Internet Dengan Voucher Internet

Kini pengguna Mentari dan IM3 dapat ber-internet ria lebih leluasa dengan Voucher Internet Indosat, yaitu voucher khusus dari Indosat yang pulsanya hanya bisa digunakan untuk akses internet (akses data). Voucher Internet Indosat ini adalah voucher internet pertama yang pernah ada di indonesia.

Dengan Voucher Internet Indosat, surfing, browsing, downloading, uploading, e-mail, sampai chatting jadi lebih murah dan menyenangkan, cuma Rp 10/30 detik (termasuk PPn) dengan kecepatan sampai dengan 256 Kbps!

Saat ini Voucher Internet Indosat baru tersedia dalam bentuk elektronik dengan denominasi Rp 5.000 untuk masa aktif 5 hari. Voucher ini dapat digunakan untuk mengakses internet berbasis durasi selama 250 menit.



Pembelian Voucher Internet
Voucher internet sangat mudah didapat karena tersedia di seluruh outlet yang menyediakan layanan isi ulang elektronik kartu prabayar Indosat (i-SEV) di seluruh Indonesia, seperti:
Lapak
Warung
Toko
Ruko
Sentra Ponsel
Channel alternatif seperti PT POS, dll



Notifikasi Sukses Reload
Setelah melakukan pengisian, pengguna Mentari/IM3 akan memperoleh SMS notifikasi seperti contoh sebagai berikut:




Pengecekan Pulsa
Pengguna IM3, dapat melakukan pengecekan pulsa Internet dengan menekan *388*1#
Pengguna Mentari, dapat melakukan pengecekan pulsa Internet dengan menekan *555*1#


Setting
Untuk mengaktifkan layanan ini, pastikan setting Internet di HP Anda menggunakan setting berbasis durasi:
Setting Manual
APN : indosatgprs
Username : indosat@durasi
Password : indosat@durasi

Setting Otomatis (OTA Setting)
Ketik : durasimerk HPtipe HP, kirim SMS ke 3000 (gratis)
contoh: durasi SE K610i (untuk handphone Sony Ericsson K610i)

Mekanisme Pemakaian Pulsa Internet

Bagi pelanggan Mentari / IM3 yang mengakses internet berbasis durasi, pulsa yang akan terpotong terlebih dahulu adalah pulsa INTERNET. Setelah pulsa Internet habis, maka akses internet selanjutnya akan memotong pulsa REGULER (Pulsa reguler adalah pulsa yang berasal dari isi ulang yang menggunakan voucher reguler, sedangkan pulsa internet berasal dari isi ulang yang menggunakan voucher internet).
Pemakaian pulsa dihitung dalam ‘menit’ dengan satu unit pemakaian = 30 detik.

Contoh:
Pulsa Internet = 250 menit. untuk akses internet selama 60 detik. Maka sisa Pulsa Internet= 249 menit.
Kemudian akses internet lagi selama 45 detik. Maka sisa Pulsa Internet = 248 menit.
Kemudian akses internet lagi selama 90 detik. Maka sisa Pulsa Internet = 246,5 menit.



Syarat dan Ketentuan:
Berlaku untuk akses internet dengan setting berbasis durasi, sehingga akan memotong pulsa Internet.
Bila pelanggan menggunakan setting Internet berbasis volume, akses internet akan memotong Pulsa Regular Rp 1/Kb meskipun melakukan isi ulang dengan Voucher Internet.
Pulsa Reguler harus tersedia minimal Rp 500
Koneksi internet akan terputus jika Pulsa Internet habis.
Isi pulsa menggunakan voucher internet tidak bersifat akumulatif untuk masa aktif pulsa Internet, tetapi menambah masa aktif pulsa reguler.
Sisa Pulsa Internet akan hangus jika pelanggan tidak melakukan reload Voucher Internet sebelum masa aktif Pulsa Internet berakhir.
Pulsa Internet akan hangus saat pelanggan melakukan perpindahan paket.
Voucher ini belum bisa digunakan untuk kartu Matrix Auto.

Voucher Internet Indosat juga bisa dinikmati via PC/Laptop
Syaratnya:
Setting di HP/modem dan aplikasi di PC/Laptop (PC Suite, dsb) menggunakan profil berbasis durasi:
APN : indosatgprs
username : indosat@durasi
password : indosat@durasi


Info lebih lengkap silakan menghubungi nomor 100 (Indosat Contact Center)

Senin, 22 Desember 2008

Kritik Sosial dalam Puisi-Puisi Darmanto Jatman Sori Gusti

1 komentar
Kenneth Burke dalam A Grammer of Motives' and A Rhetoric of Motives (1927:33) menyatakan bahwa sastra idealnya berperan secara estetika dan praktis. Artinya, meski sastra merupakan dunia dengan tebaran keindahan, tetapi harus memiliki relevansi dan kontribusi bagi kehidupan.
Sastra harus memiliki kandungan atau isi bermanfaat, mengangkat derajat perikemanusiaan dan mengajarkan nilai-nilai moral yang luhur. Dengan kata lain, sastra harus menjadi medium penyadaran dan pendidikan masyarakat pembacanya. Memang pada mulanya, sastra dicipta semata-mata sebagai dunia estetika yang hendak dicumbui keindahannya. Akan tetapi, karena sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka akhirnya berkembang sesuai dengan proses zaman yang memolanya.
Karya sastra yang kritis dan imajinatif, menjadi semacam rujukan atau jawaban atas persoalan dalam kehidupan, di samping kitab suci agama. Jawaban yang disuguhkan sastra memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yaitu kebenaran yang merupakan kata kunci dalam pengetahuan (sains) dan keindahan yang merupakan unsur sastra sendiri. Pendek kata, sastra memberi jawaban atas problem kehidupan dengan kebenaran yang dibalut keindahan. Jika merujuk pendapat Burke tersebut, terjawab sudah kontrovesi antara kubu estetika dengan kubu praktis mengenai peran sastra.
Puisi misalnya, memang merupakan sebuah media untuk mencurahkan segala kegelisahan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Sejak zaman Chairil Anwar dan mungkin juga sebelumnya puisi sudah banyak digunakan sebagai media untuk memprotes atau mengkritik pemerintah.
Disini, dalam kumpulan puisi “Sori Gusti” Darmanto Jatman juga mencoba melakukan sebuah kritik terhadap pemerintah yang dianggap sudah tidak mampu lagi melakukan tugasnya dengan baik. Puisi-puisi yang ada di sini banyak sekali menghadirkan suatu kebenaran dan keindahan sebuah puisi yang memiliki kedalaman makna yang sangat mendalam.
Pidato perdamaian karya Daramnto ini merupakan paduan antara puisi, pidato dan pantun nasehat. Darmanto berani mengemas puisi berbeda mengikuti aliran kontemporer yang ingin keluar dari struktur sosial kritik. Kritik sosial yang ditulis merupakan pencitraan dari masyarakat Indonesia umumnya dan penguasa khususnya. Penyajian yang berbeda dengan tambahan pantun nasehat dan semboyan-semboyan klasik di negara ini serta disajikan hampir mendekati sebuah teks pidato merupakan ciri yang sangat kental yang membangun puisi-puisi di sini.
Dalam puisi “harmoni itu sepasang sandal jepit” Darmanto menampilkan sesuatu yang lebih religi, namun masih mengangkat tema kritik sosial. Dalam puisi ini darmanto mencantumkan juga puisi dari dua penyair terkenal yaitu, “doa Seorang Serdadu sebelum Perang (WS Rendra) dan “Doa” (Chairil Anwar). Kita semua tahu kalau kedua penyair ini sangat kental dengan puisi-puisi yang sangat mengkritik, terutama kepada sistem social dan politik yang ada di Negara ini. Kembali lagi, dalam puisi ini Darmanto menghadirkan banyak sekali kisah-kisah klasik yang ada di daerah-daerah di negara ini. Dari cerita kerajaan Sriwijaya yang telah menyatukan nusantara, Gajahmada yang memdengungkan sumpah palapa hingga VOC menguasai Nusantara. Puisi ini juga menyinggung tentang kekuasaan orde baru dimana, Negara menjadi monolitik dan pola-pola berperilaku diseragamkan hingga keruntuhannya pada 21 Mei 1998. puisi ini mengajarkan kita untuk menerima perbedaan yang telah membangun bangsa ini. Semua manusia sama, setiap orang berbeda-beda, itulah yang ingin disampaikan Darmanto Jatman dalam puisi ini.
Dalam puisi “Jangan Asal Usul”, Darmanto juga menyindir oknum-oknum pemerintah pasca orde baru dalam melaksanakan tugasnya. Banyak sekali praktek-praktek yang tidak jauh berbeda dengan pada saat zaman Orde Baru. Darmanto dengan samar seperti sedang mengatakan bahwa “kalau menjadi pejabat itu jangan hanya mengurusi diri sendiri dan mengorbankan rakyat”. Di sini juga di tambahkan sebuah pepatah jawa yang sengaja ditujukan kepada oknum-oknum pemerintah yang biasanya hanya “ngomong tok” yaitu, ajining diri ana ing lathi. Pepatah ini memiliki makna yang dalam mengenai harga diri seseoranga dimata orang lain, yaitu bahwa harga diri seseorang dilihat dari bicaranya. Dalam konteks ini adalah bicaranya para pejabat negara atau para wakil rakyat yang hanya bisa bicara tanpa ada kerja konkrit, serta selalu menysahkan rakyat kecil.
Dalam puisi “Laporan kepada Rakyat” sekali lagi disinggung tentang Pemimpin Orde Baru yaitu Presiden Suharto yang menjelang keruntuhan kekuasaannya membentuk suatu organisasi tanpa bentuk. Suatu situasi dimana banyak sekali orang yang sangat tunduk kepada penguasa Orde Baru.
Selanjutnya dalam puisi “Amanat buat Mereka yang Pindah Abad” Darmanto mencoba menghadirkan suatu konflik yang terjadi saat ini. Dalam pusisi ini sangat padat sekali isinya tentang kisah-kisah yang terjadi pada masa lalu dan membandingkannya dengan situasi yang ada sekarang. Puisi ini menggambarkan situasi abad 20 yang penuh dengan peperangan dan kekerasan. Banyak sekali dimana-mana terjadi perang, pembunuhan dan kerusuhan. Suatu abad dimana orang-orang sangat akrab dengan yang namnya senjata. Sekarang zaman sudah berubah, disebut sebagai milenium baru, abad yang baru.Oleh karena itu Darmanto mencoba mengingatkan kepada orang-orang yang merasa masuk pada abad yang baru ini untuk tidak mengulangi atau meniru tindak-tindak kekerasan yang biasa dilakukan pada abad sebelumnya. Dalam pusisi ini Darmanto sengaja mengawalinya dengan salam
Saudara-saudara
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syalom, Shanti, Sancai, Slamet!...
Ini dimaksudkan bahwa amanat yang disampaikan dalam puisi ini ditujukan kepada semua kalangan dari berbagai agama yang ada di Indonesia. Tanpa membeda-bedakan suku dan agama.
Dari keseluruhan pusi-pusi Daramnto ini yang di dalamnya sering dicantumkan sejarah-sejarah yaitu dimaksudkan agar bangsa ini mau belajar dari pengalaman yang pernah terjadi. Banyak sekali kisah-kisah yang ditampilkan tersebut memiliki makna dalam dan sangat berhubungan dengan kondisi Indonesia saat ini. Selain itu ditambahkannya juga pepatah-pepatah klasik juga merupakan pembelajaran bahwa kearifan lokal negri ini yang memiliki unsur makna yang sangat luhur.
Pada konteks bangsa ini (Indonesia), tatkala krisis multidimensi dan carut-marut belum beranjak, idealnya sastra menyembulkan peran estetika dan praktisnya. Sastrawan kita mesti terjaga dari peraduannya. Sudah saatnya sastrawan kita memoles luka bopeng kehidupan bangsa ini, dengan berbagai karya kritis sekaligus mencerahkan.
Sastrawan kita harus berperan layaknya Paulo Freire, yang meminjam derita masyarakat sebagai penyuplai ide-idenya. Seluruh karya Freire merupakan kritik sosial atas penderitaan yang menimpa rakyatnya. Menurut Freire, sastrawan mestinya tidak hanya menjadikan rakyat sebagai objek karya sastra, lebih dari itu sebagai subjeknya. Dengan kata lain, sastra tidak hanya berbicara tentang rakyat, melainkan juga berbicara dan bersilaturrahmi dengan mereka.
Selain itu, sastrawan-melalui karya-karyanya-harus membongkar oknum-oknum haus kekuasaan, munafik, gila harta atau oknum ulama yang tidak peduli dengan umatnya. Sudah saatnya sastrawan "memberontak" pada ketidakadilan, penguasa yang menindas, menghisap dan menyengsarakan rakyatnya. Tidak ada pilihan lain, selain sastra kita-meminjam istilah Satyagraha Hoerip-harus "terlibat" dalam menyelamatkan moralitas bangsa. Tujuannya, agar korupsi, manipulasi, menipu, memeras, dan moralitas bejat lainnya, menular atau mewaris pada generasi muda (Sawali Tuhusetya, 2007). Pertanyaannya kemudian adalah, tatkala sastra(wan) telah lantang menyuarakan "pemberontakan" tersebut, apakah lantas kondisi bangsa ini terentaskan? Secara langsung memang tidak terasa. Paling tidak, masyarakat (pembaca) kemungkinan besar terangsang untuk melakukan penyadaran tentang pelbagai problem tersebut pasca membaca karya sastra, atau kemungkinan problem tersebut tidak dirasakan lagi kehadirannya dalam kehidupan-karena masyarakat terhibur dengan sastra (Chairul Harun, 1997).
Darmanto Jatman dalam antologi puisinya ini juga berusaha untuk melakukan hal yang sama seperti yang dimaksudkan dengan penjelasan tentang sastra(wan) di atas. Dia berusaha menghadirkan suatu kondisi yang selama ini menaungi negri ini. Untuk itu Darmanto berusaha melakukan penyadaran terhadap siapa saja yang telah membaca puisinya ini tentang berbagai masalah yang tengah dihadapi oleh negeri ini. Dengan demikian diharapkan agar para generasi penerus bangsa ini dapat belajar dari pengalaman dan mampu memperbaiki kondisi dan situasi pada negara ini.
Di Indonesia memang ada beberapa karya sastra yang berusaha menjadi sarana kritik sosial, akan tetapi menurut Kuntowijoyo karya-karya sastra tersebut belum mampu membentuk public opinion masyarakatnya. Serat Kalatida karya Ronggowarsito (1802-1874) misalnya, sebuah puisi yang mengandung protes sosial, tetapi menurut Kuntowijoyo masih terlalu bersifat moral sehingga keterjepitan masyarakat Jawa dalam dunia tidak dapat diubah dan tidak dapat dihindarkan. Serat Kalatida juga tidak memberi inspirasi sekaligus membuahkan gerakan masyarakat Jawa atau revolusi sosial masyarakat jawa. Serat Kalatida juga hanya mengingatkan para pejabat dan rakyat Kerajaan Jawa untuk selalu eling dan waspada menghadapi "zaman edan".
Novel bergaya prosa liris Pengakuan Pariyem (1981) karya Linus Suryadi AG, juga mengungkap kritik sosial (social critical) dengan melukiskan nasib penduduk desa yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Novel tersebut berhasil mengungkap dunia batin yang serba pasrah terhadap nasib yang disandang. Melalui simbol tokoh Pariyem, Linus berusaha memancing munculnya gerakan protes kaum wanita (gender) akan penindasan kaum bangsawan serta penempatan posisi wanita sebagai the second sex. Selain itu, Pengakuan Pariyem juga menjadi saksi sejarah mengenai proses urbanisasi besar-besaran, potret kemiskinan, serta culture of poverty daerah tandus yang bernama Gunung Kidul.
Sudah saatnya perdebatan (kubu estetika dan praktis) seputar peran sastra diakhiri. Kedua kubu mesti bergandengan tangan, bersilaturrahmi dan bahu-membahu demi mengentaskan bangsa ini dari krisis. Kolaborasi antara kubu estetis dengan kubu praktis, akan menghasilkan kritik sosial yang berimbang.
Kritik sosial sastra tidak melulu mengobarkan yel-yel dan protes yang gegap-gempita terhadap realitas sosial. Tetapi, perlu dibarengi dengan unsur estetis sehingga sanggup menumbuhkan kesadaran dalam lubuk hati pembacanya tanpa bermaksud menggurui. Pembaca yang hanya melulu disodori berbagai fatwa, nasehat, pepatah dan petitih sosial yang nggegirisi, tak ubahnya membaca sebuah liputan mengenai kejadian demonstrasi atau unjuk rasa yang vulgar. Bisa terjadi miscommunication dan misperseption antara persepsi dan visi penulisnya dengan masyarakat pembacanya.

Followers

 

WYroom. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com